Sunday, April 17, 2011

Suddenly Rain

Tadi siang aku kepikiran nyuci baju-baju kotorku yang hampir seminggu belum tersentuh. Lagipula kulihat cuaca sangat cerah, mendukung cepat keringnya cucianku. Harusnya tadi pagi aku yuci baju, tapi karena ngantuk banget ya terpaksa siang deh. Selain itu tadi pagi aku sedikit khawatir akn hujan juga.

Cucianku yang sudah bersih dan berjemur di bawah terik matahari sejak siang tadi harusnya sekarang sudah cukup kering. Lagipula ini sudah berjam-jam lamanya sejak aku menjemur mereka. Tapi tak disangka dan tak diduga tiba-tiba saja hujan deras langsung mengguyur. Alhasil aku langsung kelabakan menyelamatkan cucianku yang sudah cukup kering. Karena hujan barusan yang walau cuma sebentar cucianku diguyurnya tapi sudah cukup membuat cucianku kembali basah, :'(

Sampai postingan ini aku tulis hujannya masih deras mengguyur.

Just My Babble

Cinta, sebuah rasa yang berharga, bila terlalu sering diungkapkan, seolah maknanya semakin berkurang, membuat rasa bosan bercokol di hati. 
Maaf, sebuah kata yang berharga, sebaiknya terbiasa mengucapkannya, tapi bila terlalu sering diucapkan, seolah menjadi mainan kata, akan terasa hampa. 
Cinta dan benci seperti dua jalan yang terpisah pada mulanya, ternyata adalah satu setelahnya. Jangan mengubah cinta menjadi benci, atau takut benci akan menjadi cinta. Karena ada benci maka cinta terasa ada. 
Cinta adalah benci, benci untuk kehilangan, benci untuk berpisah, benci untuk melihat luka, benci untuk melupakan, benci untuk sakit, benci dilupakan. Karena semua itu cinta. 

Task's Done

Akhirnya tugasku bangunin dia sukses. Dia berterima kasih, yah memangnya mau apa lagi. Terasa ada yang aneh, tapi ya sudahlah lagipula setelah ini dia akan lebih capek dengan latihan yang dimulai lebih pagi. Aku cuma bisa support dia dari sini. Toh aku yakin dia juga masih punya motifnya sendiri. Sekedar perasaanku atau memang akhir-akhir ini aku lebih dekat dengannya dibanding dulu, apalagi dibanding aku naksir dia saat masih sekolah dulu. 

Habis bangunin dia, nggak lama berselang serangan rasa kantuk yang luar biasa melandaku. Untungnya aku masih sanggup bertahan sampai aku sholat Shubuh. setelah itu aku segera pindah gedung agar tidurku lebih nyaman. Tapi anehnya setelah sampai di gedung sebelah, serangan rasa kantuk yang dari tadi datang tiba-tiba saja menghilang. Aneh bin ajaib, tapi ya sudahlah. Dan bahkan sampai saat aku menulis postingan ini aku masih belum bisa tertidur. 

Jakarta Selatan, 17 April 2011

Killing Time

Sekarang masih dini hari, tapi aku belu mau tidur meski capek dan kantuk mulai melanda. Karena aku punya janji dengan seseorang untuk membangunkannya jam 4 pagi nanti. Buat dia tak apalah sedikit mengantuk dan membosankan diri ria. Aku di aktu ini cuma tak mau mengecewakannya. Aku cuma ingin membuatnya bahagia lagi -secara utuh- dan melupakan masa lalu yang sampai sekarang masih menghantuinya. Aku berharap aku bisa jadi orang yang membuatnya benar-benar telah merelakan masa lalu yang membayanginya itu. Tapi meski bukan aku orangnya setidaknya aku bisa cukup berperan membuatnya bahagia kembali. I think that's enough for me now

Aku iseng-iseng nulis post ini untuk menunggu waktunya wake her up jam 4 pagi nanti. Aku juga iseng 'ngutak-atik' mbah GOOGLE dan ber-Youtube beberapa video clip. Lagipula sekalian memanfaatkan wifi disini. Yah, meskipun jejaring sosial seperti Facebook dan Twitter serta media seperti 4shared tidak bisa dibuka disini. Setidaknya situs lain yang cukup entertain masih ada yang bisa aku pakai. 

Kepingin iseng-iseng foto teman-temanku yang sedang istirahat, sayangnya handphoneku belum cukup canggih untuk menangkap gambar mereka di kegelapan. Yah, alhasil usahaku untuk dapet foto ngusilin mereka gagal deh. Tak apalah. 

Eh, tiba-tiba perutku mnta diisi. Jam segini mau makan apa? Mau ke pasar Kebayoran cari-cari makanan tapi aku males banget ke sananya. Entar deh mikir mau makan apa, mungkin nyemil makanan ringan cukuplah. Kantuk juga mulai menyerang lagi, sial banget. Tapi aku harus bisa tetep bertahan sampai tiba waktunya ngebangunin dia. Soalnya dia katanya ada latihan pagi-pagi. Jadi dia harus lebih pagi juga mempersiapkan diri.   Aku kasihan sama dia yang selalu saja sibuk dengan jadwal latihan yang padat seolah tak ada hari libur untuknya. Andai saja aku ada di sana untuk membantunya mencuri waktu untuk merefresh pikiran dan badannya. Atau andai aku ini pacarnya yang cukup membuatnya bahagia dengan caraku memberinya dan dengan caranya menerima. Ah. aku kembali berandai-andai nggak jelas. 

Jakarta Selatan, 17 April 2011

Monas Berlumpur

Hari ini sore hari sudah turun hujan. Yah, cuma hujan sesaat hanya sekedar membasahi bumi yang cukup kering sejak kemarini ini. Memang di zaman ini cuaca sangat sulit diprediksi. Kadang terlihat mendung tapi tak kunjung turun hujan. Kadang malah terang benderang tapi bersamaan itu turun hujan. Benar-benar keadaan cuaca yang aneh, apalagi di Jakarta tempatku ini. Musim pun tak sesuai dengan prakiraan seperti dulu. Musim kering bisa turun hujan terus menerus selama beberapa hari. Musim hujan pun terkadang malah kering tak ada air turun dari langit. 

Cukup membahas keanehan keadaan alam yang terjadi. Yang ingin aku bahas sebenarnya bahwa malam ini aku dan beberapa teman kantor berencena main ke MONAS. Kami sepakat mau main bola di sana. Kami bertolak sekitar jam 10 malam. Sampai di MONAS sekitar 22.30 tapi baru dapat spot yang -kami sepakati- cukup tepat untuk main bola sekitar jam 11 malam. Spot yang kami pilih cukup strategis, strategis karena cukup jauh dari kerumunan orang jadi tidak terlalu takut kena orang kalau menendang bola,  tapi juga cukup berlumpur. Alhasil kami berenam -Alfi, Anank, Aziz, Kasim, Kholiq, Triono- main bola dengan sedikit tragedi lumpur. 

Sekitar 01.30 Triono sudah meminta segera pulang -ke kantor yang kami sebut tempat pulang- meski badan belum capek tapi cukup berkeringat, yang jelas badan dan pakaian kami belepotan lumpur akibat berbagai tragedi. Tapi kami semua baru sampai di kantor sekitar jam 2 dini hari. Itu karena kami semua diajak melihat-lihat 'aktivitas jablay' di beberapa tempat oleh Aziz. "Gila juga usulan tuh anak", pikirku. Salah satu dari kami -Kholiq- ternyata iseng juga godain jablay di pinggir jalan. Aneh bin ajaib juga tuh orang, hehe. 

Udah ah, nyampe kantor kita cuma beli gorengan terus makan gorengan sambil nonton pertandingan yang disiarkan beberapa stasiun TV. Setelah itu masing-masing kami istirahat menrut cara masing-masing. Dan aku pun segera menuju laptopku dan menulis cerita ini. 

Jakarta Selatan, 17 April 2011